Kolam Berhantu Air terjun Oshiraji



Tokyo – Kolam air terjun Oshiraji no Taki di Yaita, Prefektur Tochigi sedang menjadi pembicaraan di kalangan netizen. Kolam sedalam dua meter dengan air berwarna biru setelah hujan itu merenggut nyawa dua pemuda. Mereka tenggelam dan tak muncul lagi.

Peristiwa itu terjadi pada 18 Agustus. Empat pemuda dari Prefektur Gunma mengunjungi Oshiraji no Taki. Mereka nekat mandi meski sudah ada larangan untuk mendekat ke cekungan berair dingin itu.

Kedua pria berusia 23 dan 18 tahun melompat ke cekungan air terjun. Tetapi mereka tidak pernah muncul kembali. Teman mereka melaporkannya ke polisi setempat. Petugas darurat menemukan mereka di perairan dan membawa ke rumah sakit, tetapi keduanya dinyatakan meninggal karena tenggelam.

Kematian itu membingungkan banyak orang karena kolam air terjun kelihatannya tidak berbahaya. “Ini bukan tempat di mana orang biasanya bisa tersapu dan tersedot,” kata Tachibana Masanori, yang melakukan inspeksi di lokasi pada 3 September.

Ia adalah anggota Kawa ni Manabu Taiken Katsudo Kyogikai, sebuah organisasi nirlaba di Tokyo yang menjalankan lokakarya untuk melatih penjaga pantai untuk menjaga keselamatan orang-orang yang bermain di air. Tim inspeksi pun mengukur suhu air di cekungan dan area sekitarnya.

Menurutnya, mata air yang mengalir ke cekungan mencapai suhu rendah 9,8 derajat, lebih rendah dari air yang masuk ke kolam dari air terjun.

Suhu air di kolam pada 18 Agustus, diperkirakan sekitar 10°C atau lebih. Tidak ada air yang mengalir dari air terjun hari itu. Tapi hari itu panas, dengan suhu mencapai 33° Celcius di Shioya, yang bertetangga dengan Yaita.

Tachibana menduga rendahnya suhu air di kolam air terjun menjadi penyebab kematian mereka. Ia mencatat bahwa air dingin tetap berada di dekat dasar kolam. Air masih ada hari itu, karena tidak adanya air yang mengalir dari air terjun.

“Setelah terjun ke kolam, mereka langsung direndam di air dingin di dekat dasarnya. Kemungkinan mereka kehilangan napas karena bersentuhan dengan air yang dingin dan akhirnya menghirup air,” jelasnya.

Tachibana menduga ada kemungkinan bahwa kedua pria tidak dapat muncul cukup cepat karena otot-otot mereka menegang karena air dingin, sehingga mereka tidak dapat bereaksi dengan cepat.

Masalah diperparah oleh fakta bahwa dasar cekungan air terjun licin dengan alga dan hanya ada beberapa batu di dekatnya untuk dipegang. Tachibana meminta orang-orang untuk berhati-hati saat bermain di air. Ada risiko bahkan ketika air terlihat aman.

Pemerintah Yaita mengatakan air terjun itu untuk dilihat, bukan untuk berenang. Mereka sudah memasang tanda-tanda yang melarang pengunjung mandi di kolam air terjun itu. Pemerintah menyesal Oshiraji no Taki terkenal karena kecelakaan yang merenggut nyawa, bukan karena keindahan alamnya.

Postingan populer dari blog ini

Pengukuhan Pengurus Pusat PARMUSI Periode 2020-2025

Kunjungi Purwakarta Wakapolri Imbau Masyarakat Liburan di Rumah Saja

OPS Zebra Lodaya 2020, Kapolres Indramayu Bagikan Ratusan Masker & Paket Sembako